Sang kala adalah derap yang melayuk bagai bayang-bayang.
Pada retas rembang usia, ia menjelma petang jingga yang menari indah di horizon baur.
Pencarian ini tak akan pernah berhenti hingga mezbah kematian memanggilku!
— Pada 15 tahun pencarian seorang perempuan bernama Ryana Mustamin.
(Effendy Wongso)
Menjelang musim semi, gurat matahari masih kerap hanya nampak di kaki lazuardi, berselingkuh di antara bongkahan salju yang mulai meleleh. Kukuh telah menyelesaikan bacaannya yang kesekian; A Portrait of the Artist as Young Man. Diletakkannya novel Sheli itu di meja. la menguap sebentar, lantas mengalihkan tatapnya ke kanvas gadis itu di sampingnya. Lukisan yang hampir jadi. Seorang bocah perempuan setengah telanjang berselonjor istirahat, lunglai dibawah punjung anggur, sementara tandan buah itu menggelayut rendah di seputarnya — siap dipetik andai saja bocah itu bisa terjaga sebentar.
Luar biasa, Kukuh memuji dalam hati. Bagaimana mungkin sebuah karya seekspresif itu bisa lahir dari sapuan tangan yang setengah beku oleh dingin. Tapi Kukuh mengulum senyum di bibir.
"Kenapa?" Sheli memiringkan kepala.
Lelaki itu masih tersenyum samar. Lalu, "Kau kangen Rhein," dagunya menunjuk lukisan anggur. Dilepaskannya mantel. Hangat menyergapnya. "Hanya Rhein?" Senyumnya melebar. "Aku curiga kau mulai lupa Indonesia. Makassar."
Sheli meloloskan batang kuas dari jemarinya. Sambil menyembunyikan ringisan, dipungutnya tube-tube cat yang berserakan. Makassar, pikirnya ngilu. Tanah Anging Mamiri yang memekatkan kalbu. Di sana aku pernah menganyam ilusi, menisik penantian untuk sebuah mimpi masa depan, memelihara hati untuk seraut wajah terkasih. Dan dengan rela membiarkan hari demi hari melintas lalu, atas nama cinta dan kesetiaan. Dan dia, Bim, lelaki dengan mata hazel cokelat....
Ada bulir keringat dingin yang menempel di pelipisnya. Kukuh mengawasinya dengan ekor matanya, lebih seksama. Lalu pandangannya jatuh ke sepasang mata kecil hitam di depannya, ke leretan tabir yang bersemayam diam-diam di situ. Mata kecil murung di gerbang Holstein, gumamnya di hati.
Concordie domi forix pax. Kerukunan di dalam, kedamaian di luar. Demikian bunyi semboyan di gerbang Kota Hansa Lubeck itu. Pekan lalu, mereka sama termangu memandangnya. Kukuh dengan benak yang mengembara ke lembaran uang 50 Mark, dan tersenyum di hati menemui kesamaan gerbang di depannya dan gambar yang tertera di kertas bernilai itu. Sementara Sheli, dalam diam menyelam ke kedalaman maknanya. Damai ada di mana-mana, kesahnya di batin. Dan di kota ini, akankah ia ramah padaku?
Sheli menghela napas tertahan. Kukuh menangkap bias ragu di sebelahnya, antara optimisme dan pesimisme. la menoleh cepat, dan menampak sepasang pupil mata sehitam miliknya. Gadis Indones....
"Ada apa?" Suaranya mendahului benaknya. Setengah surprais, setengah ragu.
"A-da... apa?" Mata Sheli yang kecil bagus membulat sempurna. Suara yang tak dikenalnya. Namun karib. Mendengar pertanyaan itu seolah menemukan butir intan setelah berbulan-bulan mendulang dengan hasil nihil. Kupingnya terlanjur akrab mendengar orang-orang di sekitarnya berbahasa Jerman.
"Hei, Indonesia?" Sheli tak pandai menyembunyikan keterkejutan.
Tawa Kukuh menebar. "Jadi aku tak salah?" Tangannya terulur hangat.
Awan-awan berwarna timah memenuhi langit. Mereka telah jalan berendengan.
"Kok kamu nyasar sampai ke sini?" Sheli mengamati lelaki di sampingnya.
Kukuh masih menyimpan senyum di matanya. "Kamu?"
Ha, lelaki itu menjeratnya untuk bercerita. Ia lari dari Indonesia, dan terbang jauh ke tempat neneknya di wilayah geologis zona perkebunan anggur Jerman, sekitar limapuluh dejarat lintang utara. Pohon-pohon anggur di sepanjang tepi dan lembah-lembah dekat anak sungai Rhein, tak cuma memasungnya dengan nikmat rasa manis dan asam dalam kadar berimbang. Tapi Rhein, jauh-jauh hari diharapkannya bisa melumatkan bilur yang dibawanya berlari. Seperti petani yang memeras anggur ke dalam piala.
Mulut Sheli terkatup rapat kini. Yang terakhir itu dikisahkannya untuk diri sendiri. Tidak bagi yang lain. la tak bisa mencegah datangnya lara saat menyadari Kukuh yang tegak di depannya, yang diharapkannya sebagai tempat melela luka, tak berbeda dengan Bim. Mereka sama-sama laki-laki. Dan untuk makhluk sejenis itu tak ada area tersisa di hatinya untuk semua dalih bernama cinta dan sejenisnya.
"Tak sampai sebulan aku di Rhein. Nenek memameriku cerita tentang kota tua ini," alihnya kemudian.
Kukuh memandang langit. Mega-mega berenang. Bibir-bibir angin menyentuh lembut permukaan air, dan memagut setiap layar yang berlintasan di Travemunde � kota pantai, anak tercantik kota Lubeck. Kukuh tak mengusik, tak memaksa Sheli bercerita lebih jauh. Kendati, hati kecilnya menuntut bagian kisah yang tersembunyi. Kukuh bersikeras ingin mengupas larikan tabir pada mata murung milik gerbang Holstein itu. Tapi belum sekarang, Kuh! Ajuknya di batin.
Mereka kemudian sibuk merajut hari. Kukuh mengajak Sheli menyusuri lekuk kota tua yang indah dengan sarana pelabuhannya itu. Hampir tiap sore mereka mengaduk-aduk 'musium terbuka' itu, berhandai-handai menelusuri kanal-kanal yang mengelilinginya, dan saling memotret. Kukuh cerdas, dengan horison pemikiran yang luas.
"Gedung ini hadiah dari negara bagian Schleswig-Holstein," paparnya di depan gedung kesenian dan kongres Lubeck. "Konon, ia seharga 60 juta Mark." Dipandangnya Sheli. "Kamu tahu kan, kota ini dikenal sebagai metropol kebudayaan di negara bagian paling utara. Setiap tahun, pekan Internationalen Musiktage dan sekitar 60 konser klasik dipergelarkan di sini...."
Sheli terpesona mendengarnya. Seperti jiwanya yang kadang-kadang mendadak gemetar saat menampak sosok Kukuh. la kerap terpuruk pada lindap bayangan mata hitam yang teduh itu. Duh mama, Sheli mengaduh di batin. Haruskah kupercaya jika perhatian tiba-tiba memiliki nilai tinggi saat hati mengalami ketersiaan dan keterasingan?
Ia tak hendak menjawab, tak tahu. Tapi Sheli berusaha membangun keangkuhan. Keangkuhan untuk tidak belajar jatuh cinta lagi. Bim telah cukup jadi contoh soal.
Maka, bukan kesalahan besar ketika ia tak mencoba membayangkan lukisan romantik tentang sebuah perpisahan ketika Kukuh ngotot mengantarnya ke bandara, berpuluh hari sesudah lukisan Sheli rampung. la melepas tawa, dan Kukuh membungkamnya.
"Kau tidak bersikap sebagaimana orang yang akan pergi?" Kukuh menjejas ceritanya tentang musik Jerman yang merupakan perpaduan khas antara pandangan yang kosmopolitan, semangat, dan kemahiran. Lelaki itu meraih bahunya, tidak rela dengan jarak yang dibentangnya. "Kau tidak berucap sesuatu?" suara Kukuh begitu pedih dan garang.
Sheli menggeleng. Gagah.
"Aku suka padamu. Berjanjilah sesuatu untukku!" kesah lelaki itu galau.
Sheli meregang. Jemarinya gigil dalam genggaman. la menyimpan harapan yang sama, meski menyembunyikannya ke relung batin terdalam. la yakin, perasaannya kali ini bukan untuk saling memiliki.
Kukuh masih memeluknya, dan menyentuh matanya dengan sudut bibir. "Juga tak menangis?"
Sheli menggeleng lagi. Lebih gagah.
"Matamu basah," suara Kukuh jauh. Lantas tertawa kering. "Ah, kau kelilipan �"
Malam memanjang, dan menyandingkan bulan di dekat bintang. Sheli berpaling. Langkahnya oleng menyentuh pintu kaca. la menuju pesawat yang akan membawanya ke Jakarta, tanpa menoleh. Tanpa menoleh.
***
... bagai mimpi, Sheli. Aku menyaksikan sebuah peristiwa yang mengguncang dunia. Hasil pertemuan di Dresden itu telah menampakkan hasil nyata. Orang-orang dari RDJ-Sachsen dan Mecklenburg, Thuring serta Brandenburg, menikmati bepergian setelah rezim komunis mengurung mereka selama 28 tahun dan memperlakukan mereka bagai bayi. Aku suka mengkhayal, suatu ketika kau ada di sampingku dan turut menyaksikannya. Kita berdiskusi lagi seperti dulu....
SURAT ke-32 dari Kukuh sejak perpisahan mereka dua tahun lalu di Frankfurt Main. Tentang tembok Berlin yang runtuh. Sheli mengenang perpisahan itu dengan menatap tumpukan surat dan postcard dalam bauran rasa yang asing. Tekadmu sekukuh namamu, kesahnya di batin. Sementara apa yang kulakukan di sini? Menertawai dongengmu?
Cinta, kesetiaan, dan kepercayaan; tiga miliknya yang telah lama raib. la lenyap bersama sosok Bim, lelaki yang pernah menyodorinya pemandangan biru saat Sheli menemuinya di Jakarta hampir tiga tahun silam. Bim tengah menyatakan rasa dengan caranya sendiri: mengecup Karina di pesta ulang tahun gadis itu, persis saat Sheli tiba di ambang pintu rumah bidadari Bim itu. Pemandangan itu merajam, dan berceceran sukmanya seketika. Surpraisnya untuk Bim — yang disusun dari material bernama kangen — runtuh kala menangkap mata asing dan bibir penuh geragap dari lelaki yang pernah menjanjikan banyak hal padanya. Sheli datang tidak pada timing yang menyenangkan. la muncul dengan tungkai kaki, jemari, dan hati yang sama patahnya. Dan Sheli hanya mampu menyekap isaknya dengan kerongkongan yang panas....
"Makassar-Jakarta, jarak yang jauh untuk sebuah hati yang rapuh, Sheli! Maafkan saya...," mata hazel cokelat Bim tak lagi mampu menenteramkan tangisnya.
Dan, aku yang bodoh! Ratapnya sakit. Surat-surat Bim yang setia melayang ke Makassar tak berbeda dengan cerpen-cerpen picisan yang kerap dibacanya di majalah. Dongeng Bim tentang cinta telah mengecohnya. Kalimat-kalimat yang diterima dengan keyakinan penuh itu membuainya, menyulut keberaniannya untuk membangun penantian, sekaligus mendudukkan cinta dan kesetiaan pada tempat teragung.
Semua lantak dan luluh..., gumamnya patah. Tak sampai setahun setelah ia melepas Bim di Bandara Hasanuddin untuk melanjutkan kuliah ke UI.
Kalimat Bim pula yang dipindahkannya ke atas kertas untuk mengisi surat yang dikirimnya untuk Kukuh. "Indonesia-Jerman, terlalu jauh untuk hati yang rapuh...," tulisnya. Jika yang di Jakarta saja bisa menyeleweng, apalagi yang di Frankfurt sana?
Sheli mendengus. Lalu mengatup mata berdoa saat Lufthansa German Airlines mulai menjejak landasan. Sebentar kemudian, matanya tak lagi menangkap biru mayapada, halimun yang bergerak ke belakang lewat jendela pesawat. Ia kembali ke daratan Eropa, bertepatan dengan musim salju yang kembali bertamu. Tak ada alasan untuk menolak tawaran nenek berlibur di kebun anggur lagi. Tiga tahun, waktu yang cukup untuk menyelami permainan lelaki tanpa harus sakit hati. Kendati, dalam ratusan hari-harinya itu, ada malam-malam tertentu di mana ia sulit memupus bayangan Kukuh. Terlebih saat tawa Meli dan lyan — pacar adiknya, mencecarnya setiap malam Minggu tiba. Jauh-jauh ia menyadari itu, dunia terlalu luas untuk diarungi seorang diri. Tapi Kukuh..., ia kawan lama! Hibur hatinya kemudian.
Benak Sheli kembali penuh dengan kisah-kisah musim semi pada sore-sore yang manis di sepanjang kanal yang mengelilingi Lubeck, membelah rentetan historis arsitektur kota itu, memuasi perasaan dengan pemandangan bangunan-bangunan yang berderet artistik. Kukuh pernah menjelaskan padanya gaya bangunan yang berkisah tentang zamannya itu.
"Gedung ini bergaya Renaissance. Yang itu Gotik dan Barock...," ujarnya dulu.
Sheli tersenyum. Kukuh, gumamnya dalam dingin. la mempercepat langkah. Apartemen Kukuh nampak di ujung jalan. la harus bisa memaksa cowok itu meninggalkan kuliahnya di Frankfurt, dan mengajaknya bersama-sama berlibur ke Rhein dan Lubeck.
Di depan pintu, gadis itu tertegun. Ada getar serentak merembesi raganya. Masa lalu bersama Kukuh hadir mengepungnya: saat hatinya berdenyar ketika menampak sosok lelaki itu, saat ia terpuruk pada lindap bayangan mata hitam teduh milik Kukuh. Juga, saat terkenang pada malam-malam dinginnya yang sunyi di Makassar sana. Aku telah menipu diri sendiri..., akunya kemudian dalam mata basah.
Angin yang gelisah memagut tubuhnya yang hampir seluruhnya memutih oleh salju. Dirapatkannya jaket wol tebal untuk menyembunyikan tubuhnya yang ringkih. Sheli menguatkan hati. Bulan-bulan terakhir ia pernah begitu sibuk menjadi arsitek sebuah keyakinan: ia akan datang untuk nenek, untuk anggur-anggur di tepi sungai Rhein, untuk opera-opera Beethoven, untuk pergelaran musik klasik, untuk gedung-gedung kontemporer di pesisir Laut Baltik, untuk melihat keruntuhan tembok Berlin. Juga untuk seorang kawan lama bernama Kukuh. la percaya, rancangannya kini telah berwujud.
Sheli meraih handel pintu, tak terkunci. la menguaknya, nyaris tanpa suara. Seperti yang kerap dilakukannya tiga tahun silam selama berada di Frankfurt, sepekan sebelum terbang ke Jakarta. Dan ia tercengkam oleh peristiwa di luar skenarionya. Ia memang berharap seorang gadis tengah dicumbu Kukuh di depan tungku perapian. Sesaat, otaknya seperti berhenti bekerja. Sungguh, Sheli tidak bisa apa-apa. Ia ternyata belum siap sepenuhnya. Termasuk menerima kejadian luar biasa itu: mendapati Kukuh termangu memunggunginya, dengan jari-jari mengelus seraut wajah dalam bingkai foto. Dan potret berbingkai itu....
Diraihnya kursi untuk bertumpu. Tangan-tangan kokoh sigap menyambar tubuh menggigil yang limbung itu. Airmata yang telah lama mengendap, kini mengambang di pelupuk matanya. Kembara sunyinya mencapai batas penat.
"Aku selalu yakin, kau pasti datang...," bisik Kukuh parau. Diciumnya rambut kelimis di depannya. Kening, mata, dan hidung Sheli mendadak dijalari rasa hangat. Suara Kukuh begitu dekat ditelinganya. "Aku tidak punya apa-apa selain hati untukmu, Sheli. Kau percaya jika cinta dan kesetiaan bukan soal jarak dan waktu? Bicaralah sesuatu untukku...." ©
Friday, April 23, 2010
Ornamen Musim Salju
Label:
Cerita by Ryana Mustamin
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

0 komentar:
Post a Comment