Friday, April 23, 2010

Dahaga

Aku lupa sejak kapan persisnya sosok itu rajin datang. Sosok yang begitu akrab, seperti berasal dari masa lalu. Mula-mula, aku mengabaikannya. Karena tidak terlalu mengganggu. Sosok itu hanya kerap bertandang ke kamarku. Berdiri di sudut ruang, mengawasi diam-diam.
Namun belakangan, ia merimba di mana-mana, menguntit bagai bayang-bayang di bawah matahari. Sesekali ia bersuara. Nadanya pelan, kalimatnya hemat. Tapi kerap terdengar sarkastis. Dan yang lebih menjengkelkan, ia sok tahu. Ia kerap lebih awal melontarkan apa yang ada dalam benakku, sebelum aku sendiri selesai memikirkannya.
"Kamu akan menemuinya juga?" Kali ini ia duduk di jok sebelahku. Matanya awas, tajam menggunting. Ia seperti petugas polisi yang menginterogasi.
Aku hanya melengos, jemu.
"Perempuan pintar selalu berubah tolol jika ia jatuh cinta!"
Setan kecil! Aku menginjak rem kuat-kuat. Seketika, terdengar suara ban mendecit. Dengan cemas, aku memandang sekeliling, membayangkan tabrakan beruntun. Melalui cermin di atas dasbor, aku melihat tidak ada satu moncong mobil pun yang mencium pantat mobilku. Jalanan tidak terlalu ramai. Tapi orang-orang yang berdiri di pinggir jalan tersenyum.
"Kamu menambah deretan kesan bodoh perempuan yang nyupir di jalan!" Suaranya yang runcing kembali terdengar.
Aku mendelik, geram. Tapi tidak lagi terkejut. Kulihat ia tersenyum, leretannya tipis. Mirip seringai.
Dengan gemas, aku memindahkan gigi, dan kemudian menekan pedal gas sedalam-dalamnya. Ia lupa kalau aku pernah belajar ngebut di sirkuit Jim Russel.
Memasuki kawasan padat, aku mulai memperlambat kecepatan. Sesaat lagi aku memasuki antrian kemacetan. Jam telah menunjukkan pukul delapan belas lewat tujuh menit. Lampu-lampu mulai meriap, menyergap seluruh penjuru kota. Meskipun demikian, binarnya masih lesi, bersaing dengan sinar mentari sore yang belum sepenuhnya lamur.
Apakah laki-laki itu sudah tiba di sana? Telapak tanganku basah membayangkannya. Kemungkinan besar ya. Kantornya tidak seberapa jauh dari tempat itu. Hanya segaris lurus. Mungkin ia pun sudah menyalakan lampu di atas nakas. Menurunkan suhu udara. Menutup gordin. Menyetel televisi kabel. Menyeruput cappucino. Menyingkap ujung selimut....
Jantungku mendadak berdegup. Dan kulihat, sosok di sebelahku kembali menyeringai. Aku berusaha untuk tidak terlalu peduli. Kurasa, sulit membuatnya paham tentang sebuah gairah yang datang mengendap diam-diam.
Ini bukan pertama kali aku menemui laki-laki itu di tempat itu. Kami bahkan berkenalan di lounge — tujuh lantai di bawah kamar itu, setelah sekian bulan lelah berdebat di mailing list. Aku kerap sibuk mengira-ngira, berapa jam waktu dihabiskannya untuk membaca buku dan browsing di internet. Ia nyaris menguasai semua topik diskusi di milis, tanpa harus memborong seluruh komentar. Logika berpikirnya yang cerdas melekat nyaris pada setiap kata yang ditulisnya. Referensinya memadai. Beberapa kali ia membantuku menemukan alamat situs-situs yang terkait dengan aktivitasku, atau menghadiahi buku melalui kurir kantornya. Kurasa, ia sangat kutu-buku. Dan kubayangkan ia seorang yang kaku.
Tapi ternyata pikiranku tak sepenuhnya benar.
"Mudah-mudahan kali ini kamu tidak menggiringku bicara tentang budaya patriarki," sergapnya langsung menyambut uluran tanganku. Suaranya meledek.
"Kamu mau bilang bahwa aku berpikir mundur kalau masih saja mempersoalkannya, kan?" Aku meringis. Susah membenamkan wajahku hanya untuk sekadar lari dari popularitas seorang aktivis perempuan. Aku terlalu sering muncul di media.
Dan petang itu, kami akhirnya sepakat tidak menyinggung sederet persoalan kekerasan perempuan — topik yang selama ini menjadi doping seluruh gairahku. Aku melupakan sebuah kasus paedophilia yang sementara aku tangani secara intensif. Aku mengabaikan isak Cika — adikku bungsuku — di ujung telepon yang mengadukan suaminya yang selingkuh itu mulai ringan tangan.
Aku terbius oleh topik yang lain. Tentang ancaman terorisme yang terus membayang, tentang kisruh di tubuh partai politik, tentang akting Julia Robert dan David Duchovny pada film Full Frontal, tentang Israel dan Palestina yang masih terus bertikai, tentang Aceh yang bergolak, tentang perseteruan Michael Schumacher, Pablo Montoya, dan Kimi Raikkonnen di kancah F1, tentang album lawas Michael Frank....
Pekan berikutnya, kami bertemu lagi. Aku masih terpesona pada horison pemikirannya. Tapi tidak pada matanya, meski ia kerap menatapku lunak.Tidak pada tawanya yang lepas dan ringan, meski benakku ikut menjadi enteng karenanya. Juga tidak pada dagu dan rahangnya yang kukuh, yang selalu kebiruan oleh pisau cukur.
Aku hanya boleh mengagumi otaknya. Karena tidak boleh jatuh cinta padanya!
"Kenapa?" Sosok yang selalu menguntitku itu memandang ragu. Kali ini ia berdiri di samping jendela kamarku.
"Ia lebih cocok menjadi teman diskusi!" Aku menghela nafas.
"Karena ia pun tidak mungkin jatuh cinta padamu!"
"Apa?" Aku terlonjak dari ranjang. Egoku sebagai perempuan seketika menggeliat.
"Tidak pernah ada laki-laki yang mau berpacaran denganmu!"
Astaga! "Aku yang menolak mereka!" Suaraku terdengar parau.
"Perempuan seusia kamu seharusnya sudah menikah, memiliki anak...."
Aku melemparinya bantal dengan sengit. Tapi hanya membentur tembok. Setelah itu, bantal putih itu teronggok lunglai di sudut kamar. Seperti wajahku yang pias memucat. Aku bersidekap di depan cermin. Memendam isak gusar. Menyaksikan tahun-tahun lampau berlintasan.
Di cermin yang sama, aku pernah menyaksikan pertumbuhanku, perubahan fisikku. Memergoki pipiku yang ranum. Menyaksikan sepasang payudaraku yang mulai mengembang. Menyembunyikan kecemasan karena menemukan bercak merah di celana dalamku. Aku masih SMP kelas dua, ketika murid terkaya di sekolahku mengirimkan surat cinta. Tapi ibuku bilang, aku sebaiknya berkonsentrasi dulu pada pelajaran.
Di sekolah lanjutan atas, aku memotong rambutku menjadi lebih pendek, dibiarkan tergerai, tidak lagi dikuncir dua. Kata orang, kecantikan fisikku nyaris utuh. Teman-teman perempuan di kelasku secara terang-terangan menunjukkan rasa iri. Tapi aku lebih mengandalkan otak, dan tidak pernah membiarkan seorang pun anak laki-laki di sekolahku menunjukkan ketertarikan pada gerakan tubuhku. Aku dinobatkan menjadi siswa teladan, menjadi pasukan pengibar bendera, dan bahkan terpilih menjadi ketua OSIS. Seingatku, itulah babak baru dominasiku terhadap laki-laki....
"Aku pernah nyaris jatuh cinta padamu. Tapi aku berpikir, kamu terlalu cantik dan cerdas sebagai seorang perempuan. Kamu tahu, ini menakutkan bagi kami," itu ungkapan jujur Radith, sahabatku sesama aktivis di perguruan tinggi.
Tak soal. Karena aku pun sungguh tidak ingin menjadi perempuan yang hanya bisa mengenakan pupur, duduk menanti jodoh, kawin, dan kemudian beranak-pinak seperti marmut. Aku pasti akan bertemu dengan seseorang yang lebih cerdas, yang menghargaiku sebagai pribadi, sebagai relasi yang utuh. Karena itu, aku menolak bercinta dengan banyak laki-laki dungu bernafsu yang hanya mengandalkan ketampanan, dasi yang mencekik leher, dan mobil mengkilap karena kemujurannya.
"Tapi kamu juga tidak boleh seperfeksionis itu," sosok itu kembali datang mengingatkan. Bayangannya yang memantul di cermin membuatku eneg. "Turunkan standar kriteriamu. Atau, kamu tidak akan pernah menikah selamanya!"
Aku bersikeras pada pendirianku. Lalu, kusaksikan satu-persatu adik-adikku melangkahi, dan menikah dengan lelaki pilihannya masing-masing.
"Selamat memasuki hidup baru. Ingat, jangan pernah mau diperbodoh laki-laki. Apalagi disakiti. Aku tidak akan membiarkan kekerasan terjadi di sebuah rumah tangga," bisikku di telinga Cika tepat pada hari pernikahannya.
Tak sampai dua tahun, aku sudah berkali-kali menangkap isaknya di ujung telepon. Laki-laki yang pernah mengucapkan ijab kabul sehidup-semati dengan adik bungsuku itu mulai menggandeng perempuan lain.
"Bodoh! Susah bener sih menceraikan laki-laki bajingan itu?" Gerutuku tak habis pikir setelah capek menasehati Cika.
"Cika kasihan pada anaknya!" sosok di sudut itu mulai mendebat.
"Dan membiarkan laki-laki itu terus menganiayanya?" sergahku. Cika tidak berani hidup tanpa laki-laki, sambungku di hati. Kubayangkan wajah adik bungsuku yang memelas itu. Kubayangkan bara rumah tangganya. Dan seketika aku merasa bahwa pilihanku untuk tetap bertahan melajang sebelum lelaki impianku datang, adalah tepat. Aku merasa jauh lebih beruntung dibanding saudara perempuanku itu.
"Kau keliru," sosok itu membaca benakku. "Cika masih lebih baik. Setidaknya ia pernah merasakan pacaran, menikah, bercinta, hamil, dan melahirkan. Meskipun ia kemudian menderita. Tapi ia telah pernah membuktikan diri sebagai perempuan utuh."
Aku menahan geram. "Kamu mau bilang bahwa aku bukan perempuan utuh?"
Ia tertawa, pelan. "Tanyakan pada dirimu. Apa yang selama ini kau peroleh."
Aku menahan nafas, lalu meneliti wajah dan tubuhku di cermin dengan gemas. Hampir tidak ada yang berubah. Wajahku tetap cantik, dan semakin matang. Usia tigapuluh lima tidak mengurangi daya tarik seksualku. Bahkan semakin mengundang gairah. Bibirku tetap penuh, ranum memerah seperti buah cherry....
"Tapi belum pernah ada yang mengulumnya...."
Aku ingin menamparnya. Kurang ajar betul. Apa dipikirnya aku akan membiarkan tubuhku menjadi objek seksual? Seluruh rekan-rekanku sesama aktivis perempuan pasti akan menertawakanku jika itu sampai terjadi. Tidak seorang pun boleh menyentuhku sebelum ia membawaku ke pelaminan. Tidak juga laki-laki yang tengah menantiku itu. Meskipun kami berkali-kali bertemu di kamar hotel, karena kafe dan sejumlah resto tidak cukup membuat kami bebas berdebat.
"Kamu tidak takut sering-sering berdua dengan laki-laki itu di hotel?" Suatu malam sosok itu kembali menyongsongku begitu tiba di kamar.
Ah, ia ceriwis sekali. "Aku hanya butuh memberi vitamin pada otakku. Kami tidak melakukan apa-apa," aku memandangnya kesal. "Kami ingin privacy. Karena sering merasa sayang jika harus memotong diskusi yang berlangsung seru." Kami tidak akan pernah terlibat secara emosional, sambungku di hati. Karena kami sama-sama rasional.
"Kamu mulai bohong. Kalian baru saja berkencan...."
Seketika semburat panas menyerbu wajahku.
"Kalian bercumbu, berciuman...."
Aku mendengus gelagapan. "Kami sama-sama khilaf," aku membuang tubuh ke ranjang dan menyurukkan wajah di balik bantal. Laki-laki itu telah meminta maaf. Kejadian ini tidak direncanakan — kami ngobrol, bersentuhan tanpa sengaja, dan tiba-tiba saja bibirnya sudah menyentuh sudut bibirku. Seperti ada magnet yang mendekatkan. Tapi semua mengalir begitu saja. Dan kejadian ini tidak akan pernah terulang kembali. Tidak akan pernah!
"Kalian terlibat secara emosional. Kamu mulai jatuh cinta padanya...."
Aku memadamkan lampu kamar dengan gerakan kasar untuk menghindari bayangannya. "Tidak akan!" aku menyahut ketus. Laki-laki itu telah beristri — meskipun istrinya tidak becus diajak diskusi. Kalau aku mau menjadi orang ketiga, aku tidak perlu menampik tawaran sejumlah laki-laki yang datang sebelum dia. Anti poligami adalah bagian dari perjuanganku sebagai aktivis perempuan.
"Jika demikian, kamu tidak akan pernah menikah! Semua laki-laki seusiamu telah menikah. Kalaupun kamu mencari laki-laki di bawahmu, aku tidak yakin ia mau dengan perempuan seusiamu. Lagi pula, belum tentu ia bisa mengimbangi otakmu."
"Apa pedulimu?" Suaraku meradang. "Apakah setiap orang harus menikah?" Kerongkonganku sepat. Aku menelan ludah memikirkannya. Ya, apakah semua perempuan harus menikah?
"Untuk apa Tuhan menciptakan rahim?"
"Tidak semua rahim bisa membuahkan janin!"
"Setidaknya mereka berusaha untuk hamil...."
Kuputuskan untuk tidak lagi bertemu dengan laki-laki itu. Kami tidak harus saling membenci. Aku perempuan rasional. Aku tidak akan pernah menjadi orang ketiga. Aku ingin memberinya lebih banyak ruang untuk memintal kembali kemesraan dengan keluarganya, memikirkan ulang hakikat sebuah pernikahan. Aku harus melupakannya.
Tapi tiap kali mengaca, aku memergoki ruang-ruang kosong terawang, membentangkan kemarau dalam pupil mataku. Sebuah kekeringan tanpa batas. Sepi dan sunyi tanpa kesudahan. Semakin lama, aku semakin jauh tersesat dalam rasa kehilangan dan ketersiaan. Dan aku tidak menemukan jalan pulang. Segunung aktivitasku di LSM tidak lagi memanggilku. Percakapan teman-teman sesama aktivis kini mulai terasa asing dan menjemukan.
Sementara itu, berulang-kali Cika datang dengan hati belah. Sesekali pipinya tampak membiru lebam. Namun berulang-kali pula ia membuka pintu maaf bagi suaminya. Aku masih memendam rasa pitam mendengar kisahnya, meski tak segeram sebelumnya. Diam-diam, aku mulai mencari tahu mengapa Cika — dan begitu banyak perempuan yang pernah mengadu ke kantorku, bisa sepasrah itu.
"Kamu merindukannya!" Meski sinis, sosok yang setia menguntitku itu memberiku petunjuk. Bayangannya kembali memantul di kaca rias.
Aku tidak berminat bertengkar. Sejak berdiri di depan cermin tadi, aku berusaha menahan desakan kuat dari dalam tubuhku. Aku seolah diseret ke sebuah padang tandus, dibiarkan berdiri di bawah garang matahari, dengan kerongkongan membara. Dengan ngilu, aku menahan perih di bibir, dan membendung perasaan dahaga yang tiba-tiba menyerang.
Detik berikutnya, aku telah menghisap aroma laki-laki itu. Bau tubuhnya menguar di seputar kamarku. Aku tengah membersihkan sisa lipstik di bibir, ketika tiba-tiba aku dibius oleh sebuah ekstasi: rasa panas yang menjalar saat bibir lelaki itu menyusuri tengkukku, memagut telinga, leher dan sudut bibirku.... Sekujur tubuhku meregang, bergetar dalam peluh. Dan di paruh malam itu, kami hampir saja mencampakkan semua akal sehat, ketika aku mendengar sosok yang menguntitku itu berteriak tertahan di sudut.... Kami sama tersentak.
Kutelan ludah. Lalu kembali menatapi tubuhku di cermin dengan masygul. Ekstasi itu kini hadir kembali. Ia mengundangku melalui telepon laki-laki itu dua hari lalu. Suaranya yang tercekat ragu di seberang, memarut perasaanku. Aku menghabiskan hari di kantor dengan meremas parutan itu, dan menanti petang dengan perasaan gigil.
"Kamu bilang, kamu perempuan rasional...."
Aku menekan rem, menekan degup jantung. Dan kini, tanpa sabar, menatapi petugas hotel yang memeriksa bagasi mobilku dengan metal detector dari kaca spion. Dengan gegas, aku memarkir kendaraan di basement. Lalu menyusup secepatnya di lift, dan berdoa semoga tidak seorang pun mengenali wajahku. Detik ini, bukan saat tepat untuk berbasa-basi. Hampir tiga bulan kami tidak bertemu, tidak melakukan kontak sama sekali. Dan aku nyaris sinting setiap kali bercermin dan memikirkannya.
"Kamu tetap akan menemuinya?" Sosok itu ikut menerobos ke lift.
Seingatku, ia sudah mengulang pertanyaan itu dua kali. Aku menyeret langkah dengan cepat, mencari pintu kamar bernomor 704. Ketika aku memencet bel, sosok itu semakin memandangiku tak mengerti. Belakangan, kami memang menjadi lebih asing satu sama lain. Ia kerap menggiringku keluar dari alur pikiran rasionalku. Tapi di saat lain, ia mensinisi dan menentang keputusan emosionalku.
Dan kini, laki-laki yang kurindukan bau tubuhnya itu berdiri di depanku. Mengembangkan kedua lengannya. Aku menghambur, memeluknya kuat-kuat, memuaskan rasa. Laki-laki itu dengan sigap membopongku. Menyingkap ujung selimut. Menyurukkan tubuhku ke situ. "Aku hampir gila memikirkanmu siang-malam...," kesahnya.
Lamat-lamat aku menyaksikan sosok yang setia menguntitku itu mengeriut di sudut ranjang. Sosok itu, sesuatu yang bernama nurani, menyaksikan bibir lelaki itu bergerak liar. Kali ini, aku tidak tahu, apakah ia tersenyum, atau justru menangis. ©

0 komentar: